Showing posts with label MAKALAH. Show all posts
Showing posts with label MAKALAH. Show all posts

MAKALAH ALIRAN INFORMASI DALAM ORGANISASI




DOSEN PEMBIMBING
NOVA ELSYRA, S.Sos. M.A.


DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 6

SEKOLAH TINGGI ILMU ADMINISTRASI (STIA)
SETIH SETIO MUARA BUNGO
TAHUN AJARAN 2016/2017

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Aliran Infrormasi Dalam Organisasi ini.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah Aliran Infrormasi Dalam Organisasi ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.
   
                                                                  Muara Bungo,            Maret  2017
   
                                                                                              Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.........................................................................          i
DAFTAR ISI.........................................................................................          ii
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................          1
1.1 Latar Belakang......................................................................          1
1.2 Rumusan Masalah.................................................................          1
1.3 Tujuan Penulisan...................................................................          1
BAB II PEMBAHASAN......................................................................          2
2.1 Aliran Komunikasi Dalam Organisasi...................................          2
2.2 Sifat Aliran Informasi...........................................................          2
2.3 Pola Aliran Informasi ...........................................................          4
2.4 Arah Aliran Informasi...........................................................          5
BAB III PENUTUP..............................................................................          14
3.1 Kesimpulan............................................................................          14
3.2 Saran......................................................................................          14
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................          15


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Aliran informasi atau dikenal juga dengan distribusi informasi, adalah proses dimana informasi yang tepat disampaikan pada orang yang tepat, pada waktu yang diinginkan. Pendistribusian informasi dalam organisasi adalah cara-cara untuk memperoleh informasi dan berbagi informasi pada rekan kerja baik itu menggunakan metode-metode elektronik seperti situs web kolaborasi, intranet, dan apabila cara-cara dengan teknologi tidak dimungkinkan bisa jadi cara ini menggunakan arsip atau distribusi berkas secara manual.
Aliran informasi dalam organisasi adalah perpindahan informasi dalam struktur organisasi dan metodologi yang digunakan (saluran) dalam memindahkan informasi ini terkait dengan budaya organisasi, proses, waktu, dan pemaknaan sehingga informasi ini dianggap sebagai nilai, pembelajaran, pengalaman, atau instruksi.
Distribusi informasi biasanya digunakan sebagai cara untuk menjalankan rencana komunikasi dan merespon permintaan-permintaan (yang seringkali tidak disangka) akan informasi tertentu

1.2 Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan Aliran Informasi dalam Organisasi ?
2.      Bagaimana sifat Aliran Informasi dalam Organisasi ?
3.      Bagaimana pola Aliran Informasi dalam Organisasi ?

1.3 Tujuan Penulisan
1.      Ingin Mengetahui Apa yang dimaksud dengan Aliran Informasi dalam Organisasi
2.      Ingin Mengetahui Bagaimana sifat Aliran Informasi dalam Organisasi
3.      Ingin Mengetahui Bagaimana pola Aliran Informasi dalam Organisasi

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Aliran Komunikasi Dalam Organisasi
1.      Adalah suatu proses dinamik dalam mana pesan-pesan secara tetap dan berkesinambungan diciptakan, ditampilkan dan dinterpretasikan yang hidup dan berkembang dalam sebuah organisasi.
2.      Aliran Komunikasi Organisasi berfungsi untuk mengetahui bagaimana informasi itu terdistribusikan kepada anggota-anggota organisasi, bagaimana pola-pola distribusinya dan bagaimana orang-orang terlibat dalam proses penyebaran informasi itu dalam sebuah organisasi.
3.      Aliran Komunikasi Organisasi berpengaruh terhadap efektifitas organisai baik dalam kaitannya dengan hubungan-hubungan ataupun pula dalam pelaksanaan & pencapaian tujuan organisasi.

2.2 Sifat Aliran Informasi
Guetzkow (1965) menyatakan bahwah aliran informasi dalam suatu organisasi dapat terjadi dalam tiga cara: serentak, berurutan, atau kombinasi dari kedua cara ini.
1.      Penyebaran Pesan Secara Serentak
Sebagian besar dari komunikasi organisasi berlangsung dari orang ke orang, atau diadik, hanya melibatkan sumber pesan dan penerima –yang mengiterprestasikan pesan- sebagai tujuan akhir. Banyak organisasi yang mengeluarkan terbitan khusus, berbentuk majalah atau selebaran yang diposkan kepada semua anggota organisasi. Bila semua anggota departemen, fakultas, atau bagian-bagian lain menerima suatu imformasi dalam waktu yang bersamaan, proses ini disebut penyebaran pesan secara serentak.
Pemilihan teknik penyebaran yang berdasarkan pada waktu (tiba secara serentak) memerlukan pemikiran metode penyebaran yang sedikit berbeda dari yang biasa kita kerjakan. Di pihak lain, suatu pertemuan mungkin merupakan cara untuk menyampaikan informasi kepada setiap anggota organisasi pada saat yang sama; tetapi seperti yang dapat anda duga, tidak semua orang dapat hadir karena pertemuan cukup jauh. Memo merupakan media tertulis sedangkan pertemuan adalah bentuk lisan, atau suatu media tatap muka. Salah satu dari kedua metode tersebut atau kedua-duanya mungkin melancarkan penyebaran informasi secara serentak kepada sekelompok anggota organisasi; salah saatu kedua-duanya mungkin pula tidak efektif.
Dengan berkembangnya media telekomunikasi, tugas menyebarkan informasi kepada semua anggota secara serentak menjadi lebih sederhana bagi sebagian organisasi. Dengan berkembangnya sistem kabel dan telepon yang lebih canggih, dirangkaikan dengan video, semua organisasi dapat berhubungan secara visual dan vokal antara satu dengan yang lainnya sambil tetap berada di tempat kerja masing- masing. Penyebaran pesan secara serentak mungkin suatu cara yang lebih umum, lebih efektif dan efisien daripada cara lainnya untuk melancarkan aliran informasi dalam suatu organisasi.
2.      Penyebaran Pesan Secara Berurutan
Haney (1962) mengemukakan bahwah ‘’penyampaian pesan berurutan merupakan bentuk komunikasi yang utama, yang pasti terjadi dalam organisasi’’ . penyebaran informasi berurutan meliputi perluasan bentuk penyebaran diadik, jadi pesan disampaikan dari si A kepada si B kepada si C kepada si D kepada si E dalam serangkaian transaksi dua orang; dalam hal ini setiap individu kecuali orang ke 1 (sumber pesan), mula-mula menginterpretasikan pesan yang diterimanya, dan kemudian meneruskan hasil interpretasinya kepada orang berikutnya dalam rangkaian tersebut.
Penyebaran pesan berurutan memperlihatkan pola ”siapa berbicara kepada siapa”. penyebaran tersebut mempunyai suatu pola sebagai salah satu ciri terpentingnya, Bila pesan disebarkan secara berurutan, penyebaran informasi berlangsung dalam waktu yang tidak beraturan, jadi infomasi tersebut tiba ditempat yang berbeda dan pada waktu yang berbeda pula. Individu cenderung menyadari adanya informasi pada waktu yang berlainan. karena adanya perbedaan dalam menyadari informasi tersebut, mungkin timbul masalah dalam koordinasi. Adanya keterlambatan dalam penyebaran informasi akan menyebabkan informasi itu sulit digunakan untuk membuat keputusan karena ada orang yang belum memperoleh informasi. Bila jumlah orang yang harus diberi informasi cukup banyak, proses berurutan memerlukan waktu yang lebih lama lagi untuk menyampaikan informasi kepada mereka.

2.3 Pola Aliran Informasi
Katz dan Kahn (1966) menunjukan bahwa pola atau keadaan urusan yang teratur mensyaratkan bahwa komunikasi di antara anggota sistem tersebut di batasi. Sifat asal organisasi mengisyaratkan pembatasan mengenai siapa yang berbicara kepad siapa. Burrges (1969) mengamati bahwa karakter komunikasi yang ganjil dalam organisasi adalah bahwa ‘’pesan mengalir menjadi amat teratur sehinggah kita dapat berbicara tenang jaringan atau struktur komunikasi’’, ia juga menyatakan bahwa organisasi formal mengendalikan struktur komunikasi dengan menggunakan sarana tertentu seperti penunjukan otoritas dan hubungan-hubungan kerja, penetapan kantor, dan fungsi-fungsi komunikasi khusus.
Pola roda adalah pola yang mengarahkan seluruh informasi kepada individu yang menduduki posisi sentral. Orang yang dalam posisi sentral menerima kontak dan infomasi yang disediakan oleh anggota organisai lainnya dan memecahkan masalah dengan saran dan persetujuan anggota lainnya. Pola lingkaran memungkinkan semua anggota berkomunikasi satu dengan yang lainnya hanya melalui sejenis sestem pengulangan pesan. Tidak seorang anggotapun yang dapat berhubungan langsung dengan semua anggota lainnya, demikian pula tidak ada anggota yang memiliki akses langsung terhadap seluruh informasi yang diperlukan untuk memecahkan persoalan.
Pola lingkaran –meliputi kombinasi orang-orang penyampai pesan cenderung lebih baik daripada pola roda –yang mencakup aliran komunikasi yang amat terpusat – dalam keseluruhan aksesibilas anggota antara yang satu dengan yang lainnya, moral atau kepuasan terhadap prosesnya, jumlah pesan yang dikirimkan, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan –perubahan dalam tugas; di pihak lain, pola roda memungkinkan pengawasan yang lebih baik atas aliran pesan, kemunculan seorang pemimpin bisa lebih cepat dan organisasi lebih stabil, menunjukan kecermatan tinggi dalam pemecahan masalah, cepat dalammemecakan masalah, tetapi terlihat cenderung mengalami kelebihan beban pesan dan pekerjaan.
Burgess (1969) mengamati bahwa sebagai upaya untuk memecahkan masalah dalam eksperimen-eksperimen, para anggota kelompok harus ‘’belajar bagaimana menangani peralatan eksperimen dengan benar dan efesien; dan bagai mana mengefisienkan pengiriman pesan kepada satu atau beberapa posisi yang dihubungkan dengan pesan-pesan tersebut”.

Ada 6 (enam) peranan jaringan komunikasi yaitu :
1.      Opinion Leader, adalah pimpinan informal dalam organisasi.
2.      Gate keepers, adalah individu yang mengontrol arus informasi di antara anggota organisasi.
3.      Cosmopolites, adalah individu yang menghubungkan organisasi dengan lingkungannya.
4.      Bridge, adalah anggota kelompok atau klik dalam satu organisasi yang menghubungkan kelompok itu dengan anggota kelompok lainnya.
5.      Liasion, adalah sama peranannya dengan bridge tetapi individu itu sendiri bukanlah anggota dari satu kelompok tetapi dia merupakan penghubung di antara satu kelompok dengan kelompok lainnya.
6.      Isolate, adalah organisasi yang mempunyai kontak minimal dengan orang lain dalam organisasi.

2.4 Arah Aliran Informasi
1.      Komunikasi Kebawah
Komunikasi kebawah dalam sebuah organisasi berarti bahwa informasi mengalir dari jabatan berotoritas lebih tinggi kepada mereka yang berotoritas lebih rendah. Biasanya kita beranggapan bahwa informasi bergerak dari manajemen kepada para pegawai; namun, dalam organisasi kebanyakan hubungan ada pada kelompok manajemen (Davis, 1967).
Ada lima (5) jenis informasi yang biasa dikomunikasikan dari atasan kepada bawahan (Katz & Khan, 1966) :
1.      Informasi mengenai bagaimana melakukan pekerjaan,
2.      Informasi mengenai dasar pemikiran untuk melakukan pekerjaan,
3.      Informasi mengenai kebijakan dan praktik-praktik organisasi,
4.      Informasi mengenai kinerja pegawai
5.      Informasi untuk mengembangkan rasa memiliki tugas.
Pemilihan Metode dan Media
Level (1972) mensurvei para penyedia dan meminta mereka untuk menilai keefektifan kombinasi-kombinasi yang berbeda dari metode-metode untuk berbagai jenis situasi komunikasi yang berlainan. Ada empat metode sebagai berikut (1) tulisan saja, (2) lisan saja,(3) tulisan di ikuti lisan, dan (4) lisan di tulisan.
Ada enam kriteria yang sering digunakan untuk memilih metode penyampaian informasi kepada pegawai (level dan galle, 1988).
1.      Ketersediaan. Metode-metode yang tersedia dalam organisasi cenderung dipergunakan. Setelah menginventarisasikan metode yang tersedia, organisasi dapat memutuskan metode apa yang dapat di tambahkan untuk suatu program keseluruan yang lebih efektif.
2.      Biaya. Metode yang dinilai paling murah cenderung dipilih untuk penyebaran informasi rutin dan yang tidak mendesak. Bila diperlukan atau diinginkan penyebaran informasi yang tidak rutin dan mendesak, metode yang lebih mahal tetapi lebih cepat dapat digunakan.
3.      Pengaruh. Metode yang tampaknya memberi pengaruh atau kesan paling besar sering dipilih daripada metode yang baku.
4.      Relevansi. Metode yang tampak paling relevan dengan tujuan yang ingin dicapai akan lebih sering dipilih. Bila tujuannya singkat dan sekedar menyampaikan informasi, dapat dilakukan dengan pembicaraan diikuti oleh memo. Bila tujuannya menyampaikan masalah yang rinciannya rumit, metode laporan teknis tertulis adalah metode yang mungkin akan dipilih.
5.      Respons. Metode yang dipilih akan dipengaruhi oleh ketentuan apakah dikehendaki atau diperlukan respons khusus terhadap infomasi tersebut.
6.      Keahlian. Metode yang tampaknya sesuai dengan kemampuan pengirim untuk menggunakannya dan dengan kemampuan penerima untuk memahaminya cenderung digunakan daripada metode yang tampaknya di luar kemampuan komunikator atau di luar kemampuan pemahaman pegawai yang menerimanya.
2.      Komunikasi ke Atas
Komunikasi ke atas dalam sebuah organisasi berarti bahwa informasi mengalir dari tingkat yang lebih rendah (bawahan) ke tingkat yang lebih tinggi (penyelia).
Komunikasi ke atas penting karena beberapa alasan.
1.      Aliran informasi ke atas memberi onformasi berharga untuk pembuatan kepusan oleh mereka yang mengarahkan organisasi dan mengawasi kegiatan orng-orang lainnya (Sharma,1979).
2.      Komunikasi ke atas memberitahukan kepada penyelia kapan bawahan mereka siap menerima informasi dari mereka dan seberapa baik bawahan menerima apa yang dikatakan kepada mereka (Planty & Machaver, 1952).
3.      Komunikasi ke atas memungkinkan bahkan mendorong omelan dan keluh kesah muncul kepermukaan sehingga penyelia tahu apa yang mengganggu mereka yang paling dekat dengan operasi-operasi sebenarnya (Conboy, 1976).
4.      Komunikasi ke atas menumbuhkan aspresiasi dan loyalitas kepada organisasi dengan memberi kesempatan kepada pegawai untuk mengajukan pertanyaan dan menyumbang gagasan serta saran-saran mengenai operasi organisasi (Planty & Machaver, 1952).
5.      Komunikasi ke atas mengizinkan penyelia untuk menentukan apakah bawahan memahami apa yang diharapkan dari aliran informasi ke bawah (Planty & Machaver, 1952).
6.      Komunikasi keatas membantu pegawai mengatasi masalah pekerjaan mereka dan memperkuat keterlibatan mereka dengan pekerjaan mereka dan dengan organisasi tersebut (Harriman, 1974).
Sharma (1979) mengemukakan empat alasan mengapa komunikasi keatas terlihat amat sulit:
1.      Kecenderungan bagi pegawai untuk menyembunyikan pikiran mereka.
2.      Perasaan bahwa penyelia dan manajer tidak tertarik kepada masalah pegawai.
3.      Kurangnya penghargaan bagi komunikasi keatas yang dilakukan pegawai.
4.      Perasaan bahwa penyelia dan manajer tidak dapat dihubungi dan tidak tanggap pada apa yang disampaikan pegawai.
Planty dan Machaver (1952) mengemukakan tujuh prinsip sebagai pedoman komunikasi ke atas.
1.      Harus direncanakan.
2.      Berlangsung secara berkesinambungan.
3.      Menggunakan saluran rutin.
4.      Menitikberatkan kepekaan dan penerimaan dalam pemasukan gagasan dari tingkat yang lebih rendah.
5.      Mencakup mendengarkan secara objektif.
6.      Mencakup tindakan untuk menanggapi masalah.
7.      Menggunakan berbagai media dan metode untuk meningkatkan aliran informasi.
3.      Komunikasi Horizontal
Komunikasi horizontal, yaitu Informasi yang bergerak di antara orang-orang dan jabatan-jabatan yang sama tingkat otoritasnya. Komunikasi horizontal terdiri dari penyampaian informasi di antara rekan-rekan sejawat dalam unit kerja yang sama. Unit kerja meliputi individu-individu yang ditempatkan pada tingkat otoritas yang sama dalam organisasi dan mempunyai atasan yang sama.
Tujuan komunikasi horizontal :
1.      Untuk mengkoordinasikan penugasan kerja.
2.      Berbagi informasi mengenai rencana dan kegiatan.
3.      Untuk memecahkan masalah.
4.      Untuk memperoleh pemahaman bersama.
5.      Untuk mendamaikan, berunding, dan menengahi perbedaan.
6.      Untuk menumbuhkan dukungan antarpersona.
Bentuk komunikasi horizontal yang paling umum mencakup semua jenis kontak antarpersona. Bahkan bentuk komunikasi horizontal tertulis cenderung menjadi lebih lazim. Komunikasi horizontal paling sering terjadi dalam rapat komisi, interaksi pribadi, selama waktu istirahat, obrolan di telepon, memo dan catatan, kegiatan sosial dan lingkaran kualitas. Lingkaran kualitas adalah sebuah kelompok pekerja sukarela yang berbagi wilayah tanggung jawab. Yang penting kelompok ini adalah kelompok kerja biasa yang membuat atau memperbaiki suatu produk. Lingkaran kualitas umumnya diberi tanggung jawab penuh untuk mengenali dan memecahkan masalah (Yager, 1980).
Saluran ini memungkinkan individu-individu mengoordinasikan tugas-tugas, membagi informasi, memecakan masalah, dan menyelesaikan konflik. Komunikasi horizontal dilakukan melalui kontak pribadi,telepon, email, memo, voice mail, dan rapat.
Untuk meningkatkan komunikasi horizontal, perusahaan (1) melatih karyawan dalam kerjasama tim dan tekhnik komunikasi, (2) membangun sistem penghargaan berbasis pencapaian tim alih-alih pecapai individu, dan (3) mendorong partisipasi penuh dalam fungsi-fungsi tim.
4.      Komunikasi Lintas-Saluran
Komunikasi lintas saluran, adalah informasi yang bergerak di antara orang-orang dan jabatan-jabatan yang tidak menjadi atasan ataupun bawahan satu dengan yang lainnya. Mereka menempat bagian fungsional yang berbeda.
Spesialis staf (staff specialists) biasanya paling efektif dalam komunikasi lintas-saluran karena biasanya tanggung jawab mereka muncul di beberapa rantai otoritas perintah dan jaringan yang berhubungan dengan jabatan.
Fayol (1916-1940) menunjukkan bahwa komunikasi lintas-saluran merupakan hal yang pantas, bahwa perlu pada suatu saat, terutama bagi pegawai tingkat lebih rendah dalam suatu saluran.
Pentingnya komunikasi lintas-saluran dalam organisasi mendorong Keith Davis (1967) untuk menyatakan bahwa penerapan tiga prinsip berikut akan memperkokoh peranan komunikasi spesialis staf:
1.      Spesialis staf harus dilatih dalam keahlian berkomunikasi.
2.      Spesialis staf perlu menyadari pentingnya peranan komunikasi mereka.
3.      Manajemen harus menyadari peranan spesialis staf dan lebih banyak lagi memanfaatkan peranan tersebut dalam komunikasi organisasi.
5.      Komunikasi Informal, Pribadi, Atau Selentingan
Dalam istilah komunikasi, selentingan digambarkan sebagai ‘’metode penyampaian laporan rahasia dari orang ke orang yang tidak dapat diperoleh melalui saluran biasa’’ (Stein, 1967). Komunikasi informal cenderung mengandung laporan ‘’rahasia’’ tentang orang-orang dan peristiwa yang tidak mengalir melalui saluran perusahaan yang formal. Informasi yang diperoleh melalui selentingan lebih memperhatikan ‘’apa yang dikatakan atau didengar oleh seseorang’’ daripada apa yang dikeluarkan oleh pemegang kekuasaan. Paling tidak sumbernya terlihat ‘’rahasia’’ meskipun informasi itu sendiri bukan rahasia.
Sifat-Sifat Selentingan
Meskipun penelitian tentang sifat-sifat selentingan tidak ekstensif, sifat-sifat selentingan cukup lengkap seperti digambarkan berikut ini (W. L. Davis dan O’Connor, 1977):
1.      Selentingan berjalan terutama melalau interaksi mulut ke mulut.
2.      Selentingan umumnya bebas dari kendala-kendala organisasi dan posisi.
3.      Selentingan meyebarkan informasi dengan cepat.
4.      Jaringan kerja selentingan digambarkan sebagai suatu ‘’rantai kelompok’’ karena setiap orang menyampaikan selentingan cendrung mengabarkannya kepada sekelompok orang daripada hanya kepada satu orang saja.
5.      Para peserta dalam jaringan kerja selentingan cendrung menjalankan satu dari tiga peranan berukut: penghubung, penyendiri, atau pengakhir (dead-enders) -mereka yang biasanya tidak melanjutkan informasi.
6.      Selentingan cenderung lebih merupakan produk suatu situasi daripada produk orang-orang dalam organisasi tersebut.
7.      Semakin cepat seseorang mengetahui suatu peristiwa yang baru saja terjadi, semakin besar kemungkinan ia menceritakannya kepada orang-orang lainnya.
8.      Bila suatu informasi yang disampaikan pada seseorang menyangkut sesuatu yang menarik perhatiannya, semakin besar kemungkinan ia menyampaikan informasi tersebut kepad orang-orang lainnya.
9.      Aliran utama informasi dalam selentingan cenderung terjadi dalam kelompok-kelompok fungsional daripada antara kelompok-kelompok tersebut.
10.  Umumnya, 75% - 90% dari rincian pesan yang di sampaikan oleh selentingan adalah cermat; namun, seperti dikemukakan Keith Davis (1967) ‘’orang-orang cenderung beranggapan bahwa selentingan kurang cermat daripada yang sebenarnya, karena kesalahan-kesalahannya lebih dramatik dan akibatnya lebih bekesan dalam ingatan daripada kecermatan rutin seha-harinya. Selanjutnya, bagian-bagian yang kurang cermat seringkali lebih penting’’.
11.  Informasi selentingan biasanya tidak lengkap, menghasilkan kesalahan interpretasi bahkan bila rinciannya cermat.
12.  Selentingan cenderung mempengaruhi organisasi, apakah untuk kebaikan atau keburukan; jadi pemahaman mengenai selentingan dan bagaimana selentingan ini dapat memberi andil positif kepada organisasi merupakan hal yang penting.
Jumlah dan akibat pesan yang mengganggu, yang berlangsung melalui selentingan, dapat dikendalikan dengan menjaga saluran komunikasi formal tetap terbuka, yang memberi kesempatan berlangsungnya komunikasi ke atas, ke bawah, horizontal, dan lintas- saluran yang terus terang, cermat, dan sensitive. Hubungan penyelia-bawahan yang efektif nampaknya penting untuk mengendalikan informasi selentingan. Penyelia dan menajer harus memberitahu pegawai bahwa mereka mengerti dan menerima informasi melalui seletingan tersebut, terutama bila hal itu mengungkapkan sesuatu yang menyangkut perasaan pegawai, bahkan bila informasinya tidak lengkap dan tidak selalu cemat.
Di beberapa organisasi atau perusahaan yang masih memegang budaya timur, tentu saja para bawahan masih segan atau sungkan untuk menyampaikan keberatan-keberatan mereka terhadap kebijaksanaan organisasi kepada atasan mereka. Pelampiasannya melalui komunikasi antar anggota-anggota organisasi dalam bentuk informal yaitu selentingan ini.
Cara penanganan terhadap informasi yang mengalir tentu saja berbeda-beda bagi tiap-tiap organisasi. Tetapi untuk hal ini mungkin bisa saja dijadikan sebagai contoh penanganan suatu masalan dalam organisasi. Jadi penting bagl para manajer atau penyelia memahami dan membantu agar selentingan bermanfaat bagi organisasi. Informasi yang sifatnya negatif belum tentu menghasilkan hal yang negatif juga. Itu tergantung bagaimana kita menangani dan menyikapi hal negatif tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa selentingan merupakan saluran alternative kedua yang paling sering dipergunakan dalam komunikasi organisasional. (Saluran yang paling sering digunakan adalah saluran langsung pegawai-atasan). Sebagai sumber informasi, selentingan berada di urutan kedua dari bawahan dari segi dapat dipercaya dan dikehendaki. Jadi, selentingan dianggap penting oleh pegawai, tetapi tidak selalu sebagai saluran komunikasi yang lebih disukai dalam organisasi.
Cara Menanggapi Selentingan
1.      Jagalah saluran komunikasi formal tetap terbuka yang memberi kesempatan berlangsungnya komunikasi ke atas, ke bawah, horisontal dan lintas saluran yang terus terang, cermat, dan sensitif.
2.      Efektifkan hubungan komunikasi antara atasan denga bawahan.
3.      Sampaikan bahwa atasan mengerti dan menerima informasi melalui selentingan tersebut (khususnya yg menyangkut perasaan karyawan)

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1.      Aliran Komunikasi Organisasi berpengaruh terhadap efektifitas organisai baik dalam kaitannya dengan hubungan-hubungan ataupun pula dalam pelaksanaan & pencapaian tujuan organisasi.
2.      Aliran informasi atau dikenal juga dengan distribusi informasi, adalah proses dimana informasi yang tepat disampaikan pada orang yang tepat, pada waktu yang diinginkan. Pendistribusian informasi dalam organisasi adalah cara-cara untuk memperoleh informasi dan berbagi informasi pada rekan kerja baik itu menggunakan metode-metode elektronik seperti situs web kolaborasi, intranet, dan apabila cara-cara dengan teknologi tidak dimungkinkan bisa jadi cara ini menggunakan arsip atau distribusi berkas secara manual.
3.      Sifat Aliran Informasi
1.         Penyebaran Pesan Secara Serentak
2.         Penyebaran Pesan Secara Berurutan
4.      Arah Aliran Informasi
1.         Komunikasi Kebawah
2.         Komunikasi ke Atas
3.         Komunikasi Horizontal
4.         Komunikasi Lintas-Saluran
5.         Komunikasi Informal, Pribadi, Atau Selentingan

DAFTAR PUSTAKA
Robbin, Stephen P., Teori Organisasi : Struktur, Disain dan Aplikasinya, Jakarta :     Arecan.
Lubis, S.B. Hari dan Martani Huseini (2009). Pengantar Teori Organisasi: Suatu Pendekatan Makro. Jakarta: Departemen Ilmu Administrasi, FISIP UI. Bab 5.994

MAKALAH ISBD

“ MANUSIA DAN LINGKUNGAN “



DISUSUN OLEH
KELOMPOK
 

KELAS 
..

DOSEN PENGAMPU


SEKOLAH TINGGI ILMU ADMINISTRASI
SETIH SETIO MUARA BUNGO

T.A 2016/2017




KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga, makalah yang bertemakan Manusia dan Lingkungan ini dapat diselesaikan dengan baik. Selanjutnya penulis sampaikan shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW, pada keluarganya, sahabatnya, dan kita sebagai umatnya.
Makalah ini bertemakan tentang “Manusia dan Lingkungan” secara khusus mendeskripsikan tentang hakikat manusia sebagai subjek dan objek lingkungan, pandangan  manusia terhadap lingkungan, pengaruh timbal balik antara kondisi lingkungan alam dan lingkungan sosial budaya, masalah demografi dan pertumbuhan penduduk di Indonesia, kuantitas dan kualitas penduduk serta problematika pembangunan. Makalah ini disusun sebagai tugas dari mata kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar sebagai pengetahuan untuk kita semua dan sebagai langkah untuk menyadari betapa eratnya hubungan antara manusia dan lingkungan.
Ucapan terimakasih dari anggota kelompok kami sampaikan kepada dosen mata kuliah ISBD Ibu Ira Widyastuti,SE.,MM yang telah banyak memberikan petunjuk dalam pembuatan makalah ini, Selanjutnya kepada orang tua dan teman-teman yang telah memberikan dukungan materil maupun moril.
Kami menyadari bahwasanya makalah ini masih jauh dari sempurna, tetapi mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dalam mencari ilmu dan untuk para pembaca semua dalam menambah pengetahuan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna menyempurnakan makalah ini.

Muara Bungo, 05 Oktober 2016
Penulis


Kelompok

CARA MEMBUAT MAKALAH YANG BAIK DAN BENAR

KERANGKA MAKALAH/ KARYA ILMIAH

Di Bangku SMA kita telah mempelajari Kerangka Pembuatan Makalah. Namun mungkin karena dimasa SMA belajarnya kurang tekun membuat kita lupa dengan Pembuatan Kerangka Makalah ini.
Bagi Anda yang memang belum pernah membuat sebuah makalah, hal ini menjadi hal yang pastinya cukup menyulitkan dan membingungkan, namun secara tidak langsung Anda mau tidak mau harus mulai belajar dan berusaha membuat makalah Anda. Nah, sebelumnya kita sudah menyinggung sedikit mengenai pengertian dari makalah, intinya makalah merupakan tulisan resmi suatu pokok yang dimaksudkan untuk di informasikan di muka umum atau dalan sebuah persidangan dan yang sering disusun untuk diterbitkan.
Tentunya sudah ada kaedah serta aturan tertentu dalam menyusun makalah, dan disini kami akan sedikit share tentang bagaimana cara membuat makalah yang baik dan benar. Yuk langsung saja makalah yang baik dan benar adalah yang sesuai dengan kebutuhan tidak melebih-lebihkan, perlu dipahami jika makalah merupakan karya ilmiah sangat berbeda dengan skripsi.
Makalah bisa artikan bentuk terkecil dari penulian karya ilmiah, nah disinipun kita harus memperhatikan elemen-elemen karya ilmiah pada makalah itu sendiri, tanpa hal itu karya tulis yang kita buat bukanlah sebuah makalah.
Setidaknya ada delapan poin yang harus Anda ketahui dalam pembuatan makalah yang baik, berikut rinciannya :

I.              COVER
II.           JUDUL MAKALAH
III.        KATA PENGANTAR
IV.        DAFTAR ISI
V.           BAB I PENDAHULUAN
VI.        BAB II ISI
VII.     BAB III PENUTUP
VIII.  DAFTAR PUSTAKA

MAKALAH DINAMIKA MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa. Atas kehendaknya, saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan Judul “Makalah Dinamika Masyarakat Dan Kebudayaan”.

Dengan selesainya makalah ini penuis mengucapkan banyak terimakasih kepada guru pembimbing yang telah banyak memberi bantuan kepada penulis demi terselesainya makalah ini dengan baik.

Semoga amal bantuan yang telah diberikan kepada penulis di terima di sisi allah SWT. Selanjutnya penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak mengalami kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis berharap semoga makalah ini bermanfa’at bagi khususnya dan bagi pembaca umumnya.


Muara Bungo,    November 2014

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar.....................................................................................          i
Daftar Isi................................................................................................          ii
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................          1
1.1  Latar Belakang.................................................................................          1
1.2  Rumusan Masalah............................................................................          2
1.3  Tujuan...............................................................................................          3

BAB II PEMBAHASAN......................................................................          4
2.1  Pengertian.........................................................................................          4
2.2  Kerangka Budaya.............................................................................          6
2.3  Unsur-Unsur Kebudayaan................................................................          9
2.4  Fungsi Kebudayaan Bagi Masyarakat..............................................          10
2.5  Sifat dan Hakikat Kebudayaan........................................................          11
2.6  Gerak Kebudayaan...........................................................................          12
2.7  Evolusi Masyarakat  Dan Kebudayaan............................................          13
2.8  Faktor-Faktor yang menyebabkan perubahan sosial dan kebudayaan       15    
2.9  Faktor-faktor yang mempengaruhi jalannya perubahan...................          16
2.10 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Nilai Budaya..          17    

BAB IIIPENUTUP...............................................................................          20
3.1 Kesimpulan........................................................................................          20
3.2 Saran..................................................................................................          20
DAFTAR PUSTAKA



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia. Budaya dalam pengertian yang luas adalah pancaran daripada budi dan daya. Seluruh apa yang difikir, dirasa dan direnung diamalkan dalam bentuk daya menghasilkan kehidupan. Budaya adalah cara hidup sesuatu bangsa atau umat.
Budaya tidak lagi dilihat sebagai pancaran ilmu dan pemikiran yang tinggi dan murni dari sesuatu bangsa untuk mengatur kehidupan berasaskan peradaban. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Budaya Indonesia merupakan kebudayaan yang dapat di artikan sebagai kesatuan dari kebudayaan seluruh wilayah yang ada di Indonesia Untuk Menumbuhkan rasa cinta Indonesia dalam rangka Mengembalikan Jati diri Bangsa Indonesia perlu di galakkan kembali karena sekarang ini Indonesia sedang mengalami nilai nilai pergeseran dari kebudayaan lokal yaitu kebudayaan asli Indonesia kepada mulainya kecintaan terhadap budaya asing. Dengan majunya teknologi di mana informasi apa saja bisa masuk dalam kehidupan masyarakat kita turut pula mempengaruhi tergesernya nilai nilai budaya Indonesia ini. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kebudayaan maupun teknologi baik dari dalam aupun dari luar. Sekilas kebudayaan dan teknologi dinilai sangatlah bertolak belakang, kebudayaan lebih menitik beratkan kepada sejarah sedangkan teknologi berhubungan dengan trend masa kini. Tidak sedikit orang yang menilai kedua bahasan tersebut demikian. Namun, bila ditelaah lebih dalam lagi pada dasarnya dan sebenarnya kebudayaan sangat berhubungan dengan teknologi. Kebudayaan menghasilkan teknologi, sedangkan teknologi menciptakan kebudayaan dalam masyarakat serta teknologi pertanda kemajuan kebudayaan, dengan kata lain antara kebudayaan dan teknologi sangatlah mempengaruhi.

1.2  Rumusan Masalah
Dengan memperhatikan latar belakang tersebut, agar dalam penulisan ini penulis memperoleh hasil yang diinginkan, maka  penulis mengemukakan beberapa rumusan masalah. Rumusan masalah itu adalah:
1)      Apakah Pengertian dari Kebudayaan dan Dinamika Masyarakat?
2)      Apakah Unsur-unsur dari Kebudayaan Tersebut?
3)      Apakah Fungsi Kebudayaan Bagi Masyarakat?
4)      Apakah Sifat dan Hakikiat Kebudayaan?
5)      Apakah Gerak dan Faktor apa yang Mempengaruhi Perkembangan Nilai Kebudayaan?
6)      Proses revolusi sosial, inovasi dan difusi di masyarakat ?

1.3  Tujuan
1)      Mahasiswa Mengetahiu Pengertian Dari Kebudayaan dan Dinamika Masyarakat
2)      Mahasiswa Mampu Menerapkannya dalam Lingkungan Masyarakat

BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia. Budaya dalam pengertian yang luas adalah pancaran daripada budi dan daya. Seluruh apa yang difikir, dirasa dan direnung diamalkan dalam bentuk daya menghasilkan kehidupan. Budaya adalah cara hidup sesuatu bangsa atau umat.
Budaya tidak lagi dilihat sebagai pancaran ilmu dan pemikiran yang tinggi dan murni dari sesuatu bangsa untuk mengatur kehidupan berasaskan peradaban. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Budaya Indonesia merupakan kebudayaan yang dapat di artikan sebagai kesatuan dari kebudayaan seluruh wilayah yang ada di Indonesia Untuk Menumbuhkan rasa cinta Indonesia dalam rangka Mengembalikan Jati diri Bangsa Indonesia perlu di galakkan kembali karena sekarang ini Indonesia sedang mengalami nilai nilai pergeseran dari kebudayaan lokal yaitu kebudayaan asli Indonesia kepada mulainya kecintaan terhadap budaya asing. Dengan majunya teknologi di mana informasi apa saja bisa masuk dalam kehidupan masyarakat kita turut pula mempengaruhi tergesernya nilai nilai budaya Indonesia ini. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kebudayaan maupun teknologi baik dari dalam aupun dari luar. Sekilas kebudayaan dan teknologi dinilai sangatlah bertolak belakang, kebudayaan lebih menitik beratkan kepada sejarah sedangkan teknologi berhubungan dengan trend masa kini. Tidak sedikit orang yang menilai kedua bahasan tersebut demikian. Namun, bila ditelaah lebih dalam lagi pada dasarnya dan sebenarnya kebudayaan sangat berhubungan dengan teknologi. Kebudayaan menghasilkan teknologi, sedangkan teknologi menciptakan kebudayaan dalam masyarakat serta teknologi pertanda kemajuan kebudayaan, dengan kata lain antara kebudayaan dan teknologi sangatlah mempengaruhi.
Dinamika Kelompok  merupakan suatu kelompok yang terdiri dari dua atau lebih individu yang memiliki hubungan psikologis secara jelas antara anggota satu dengan yang lain dan berlangsung dalam situasi yang dialami.
fungsi dinamika kelompok:
1)      Membentuk kerjasama saling menguntungkan dalam mengatasi persoalan hidup.
2)      Memudahkan segala pekerjaan.
3)      Mengatasi pekerjaan yang membutuhkan pemecahan masalah dan mengurangi beban pekerjaan yang terlalu besar sehingga seleseai lebih cepat, efektif dan efesian.
4)      Menciptakan iklim demokratis dalam kehidupan masyarakat

2.2  Kerangka Budaya
Setiap orang memiliki budaya dan tidak seorang pun dapat dipisahkan dari budayanya sendiri. Tantangan berat bagi para misionaris (baik dalam maupun luar negeri) adalah mengidentifikasi diri dengan orang-orang yang dilayani. Untuk itu, mereka dituntut memahami budaya kelompok masyarakat yang dituju.
Langkah pertama untuk belajar budaya-budaya lain adalah menguasai budaya sendiri. Apakah arti budaya itu? Budaya menurut para sarjana Antropologi adalah hal-hal yang bersangkutan dengan akal (Kuncaraningrat). Budaya adalah sejumlah kebiasaan yang saling berkaitan (Antropolog AS Boas Kroeber, Clinton, dll.). Budaya adalah organisasi sosial yang direfleksikan oleh keseluruhannya (Antropolog Inggris Malinowski, Raeliffie Brown). Lloyd E. Kwast menjelaskan: "Budaya memiliki empat lapisan yang terdiri dari tingkah laku, nilai-nilai, kepercayaan-kepercayaan, dan cara pandang dunia."
1. Tingkah laku: "Apa yang Dibuat atau Dikerjakan"
Lapisan yang paling luar adalah "tingkah laku", yang dapat diamati dengan mudah. Hal-hal yang dapat diamati adalah: kebiasaan-kebiasaan serta bahasa-bahasa dalam berbagai bentuk dan arti. Rangkaian antara bentuk dan arti menghasilkan suatu simbol: "Apa yang dikerjakan?" Pertanyaan tersebut melahirkan pertanyaan: "Apa artinya?"
Contoh: Acungan jempol, berjabat tangan, orang Barat berpelukan sambil mencium pipi, dan lain-lain.
2. Nilai-Nilai: "Apa yang Baik atau yang Terbaik?"
Tingkah laku kebanyakan bersumber dari suatu sistem nilai-nilai standar tingkah laku dan pertimbangan yang memberikan tuntutan ke dalam hal apa yang baik dan indah atau terbaik dan terindah. Sistem nilai biasanya tumpang tindih dengan budaya. Pertanyaan "Apa yang baik atau yang terbaik?" mencetuskan pertanyaan lain: "Apa yang dibutuhkan?"
Contoh: Di Irlandia jumlah penduduk lebih besar daripada persediaan makanan. Penduduknya sering mengalami kekurangan makanan yang amat dahsyat, dan itu sudah biasa bagi mereka. Oleh karena itu, ada kebutuhan yang nampak dan mendesak yaitu mengurangi jumlah penduduknya. Tetapi karena jumlah mayoritas penduduk adalah pemeluk agama Kristen yang menolak KB, maka jalan keluarnya adalah menyusun dan mengembangkan kebudayaan dengan suatu anjuran yang menyerupai keharusan. Setiap penduduknya diminta untuk tidak menikah sebelum berusia 30 tahun. Akhirnya, laju pertambahan penduduk bisa dikurangi karena adanya penundaan pernikahan.
Di India terjadi sebaliknya, pernah juga terjadi kelaparan yang sangat hebat sehingga rata-rata orang di sana hanya berusia 28 tahun. Hampir setengah dari anak-anak meninggal sebelum berusia 5 tahun, sehingga terjadilah kekurangan penduduk. Dengan demikian nampaklah suatu kebutuhan dan budaya yang harus dikembangkan sebagai jalan keluar dari masalah tersebut. Wanita-wanita di India diwajibkan untuk menikah pada usia 12 atau 13 tahun. Akhirnya terjadilah ledakan jumlah penduduk yang luar biasa sampai sekarang.
3. Kepercayaan-Kepercayaan: "Apa yang Benar?"
Nilai-nilai merupakan refleksi dari kepercayaan-kepercayaan. Sering kali, kepercayaan-kepercayaan dipertahankan secara teoretis tetapi tidak memengaruhi nilai-nilai atau tingkah laku. Sistem kepercayaan-kepercayaan berperan untuk memberikan tuntutan kepada masyarakat setempat dalam mengambil keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan.
Contoh: Perang antara suku Madura dengan suku Dayak di Kalimantan Barat. Suku Dayak identik dengan kekristenan yang percaya bahwa tidak diperbolehkan membunuh manusia. Tetapi kebutuhan akan kelangsungan hidup dan kejayaan suku tersebut membuat mereka memilih membunuh daripada tetap mengikuti kepercayaannya.

4. Cara Pandang Dunia: "Apa yang Terjadi?"
Cara pandang dunia adalah keyakinan dasar seseorang yang berfungsi sebagai lensa tafsir terhadap kenyataan dan penuntun menuju suatu keputusan.
Contoh: Orang dari suku Jawa percaya ada hari-hari tertentu yang baik yang bisa mendatangkan kebaikan dan ada hari-hari tertentu yang tidak baik yang mendatangkan sial. Jika ada rumah tangga yang berhasil atau gagal sering ditafsirkan karena pengaruh hari perkawinannya.

2.3  Unsur-Unsur Kebudayaan
Unsur-unsur pokok atau besar "kebudayaan", yang lazim disebut Cultural Universals. Dari istilahnya saja ini dapat menunjukkan bahwa unsur-unsur tersebut bersifat universal, yaitu dapat dijumpai pada setiap "kebudayaan" di manapun di dunia ini.
Tujuh unsur "kebudayaan" yang dianggap sebagai cultural universals disini adalah:
1)      Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, alat-alat produksi, transport dan sebagainya).
2)      Mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi (pertanian, peternakan, system produksi, sistem distribusi dan sebagainya).
3)      Sistem ke"masyarakat"an (sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, sistem perkawinan).
4)      Bahasa (lisan maupun tertulis).
5)      Kesenian (seni rupa, seni suara, seni gerak dan sebagainya).
6)      Sistem pengetahuan.
7)      Religi (sistem kepercayaan).


2.4   Fungsi Kebudayaan Bagi Masyarakat
Kebudayaan" mempunyai fungsi yang sangat besar bagi manusia dan "masyarakat". "Masyarakat" memiliki kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi dalam menjalani kehidupannya. Kebutuhan-kebutuhan "masyarakat" tersebut sebagian besar dipenuhi oleh "kebudayaan" yang bersumber pada "masyarakat" itu sendiri. Karena kemampuan manusia terbatas sehingga kemampuan "kebudayaan" yang merupakan hasil ciptaannya juga terbatas di dalam memenuhi segala kebutuhan.
Hasil karya "masyarakat" melahirkan teknologi atau "kebudayaan" kebendaan yang mempunyai kegunaan utama di dalam melindungi "masyarakat" terhadap lingkungan dalamnya. Teknologi pada hakikatnya meliputi paling sedikit tujuh unsur, yaitu:
1.      Alat-alat produktif.
2.     Senjata.
3.     Wadah.
4.     Makanan dan minuman.
5.     Pakaian dan perhiasan.
6.     Tempat berlindung dan perumahan.
7.     Alat-alat transport
"Masyarakat" yang sudah kompleks yang taraf "kebudayaan"nya lebih tinggi, kondisinya sudah berlainan dengan taraf permulaan. Hasil karya manusia yaitu teknologi, memberikan kemungkinan-kemungkinan yang sangat luas untuk memanfaatkan hasil-hasil alam dan apabila memungkinkan  akan menguasai alam. Perkembangan teknologi di negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Jerman dan sebagainya, merupakan contoh di mana "masyarakat"nya tidak lagi pasif menghadapi tantangan alam sekitarnya.
Kebudayaan" mengatur supaya manusia dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak, berbuat menentukan sikapnya kalau mereka berhubungan dengan orang lain. Setiap orang bagaimanapun hidupnya, akan selalu menciptakan kebiasaan bagi dirinya sendiri. Kebiasaan (habit) merupakan suatu perilaku pribadi yang berarti kebiasaan orang seorang itu berbeda dari kebiasaan orang lain, walaupun mereka hidup dalam satu rumah. Kebiasaan menunjuk pada suatu gejala bahwa seseorang di dalam tindakan-tindakannya selalu ingin melakukan hal-hal yang teratur baginya.

2.5  Sifat dan Hakikat Kebudayaan
Sifat  Kebudayaan
1)      Terjadinya karena perubahan perilaku kebiasaan manusia
2)      Cenderung berkembang disetiap zamamn
3)      Tradisi tertentiu masih perlu melakukan ritual tertentu karena menganggap bahwa ada kekeuatan lebih besar selain dari manusia,yakni tuhan.
4)      Kebudayaan seperti music cenderung abadi, hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya langgam-langgam yang dirilis ulang.
5)      Hukum dan budaya menghadapi persoalan yang serius, hal ini sering terjadi jika penentuan tanah berdasarkan hokum adat dan udang-udang agrarian Negara.


Hakikat kebudayaan
1)      Kebudayaan terwujud dan tersalurkan dari perilaku manusia.
2)      Kebudayaan telah ada lebih dahulu mendahului lahirnya suatu generasi tertentu, dan tidak akan mati dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan
3)      Kebudayaan diperlukan oleh manusia dan diwujudkan dalam tingkah lakunya.
4)      Kebudayaan mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajiban, tindakan-tindakan yang diterima dan ditolak, tindakan-tindakan yang dilarang dan tindakan-tindakan yang dizinkan.

2.6  Gerak Kebudayaan
Tak ada kebudayaan yang statis, semua kebudayaan punya dinamika atau gerak. Gerak kebudayaan atau dinamika kebudayaan adalah gerak manusia yang hidup didalam masyarakat yang menjadi wadah kebudayaan. Gerak manusia terjadi oleh sebab adanya hubungan dengan manusia lain. Artinya, karena terjadinya hubungan antar kelompok manusia dalam masyarakat.
Dinamika masyarakat dan kebudayaan itu tidak akan terlepas dengan sebuah perubahan, karena apabila manusia saling berhubungan dan terjadi gerak maka tentunya akan terjadi perubahan, baik perubahan masyarakat maupun perubahan kebudayaan.
Kingsley Davis dalm Soekanto berpendapat bahwa perubahan sosial merupakan bagian dari perubhan kebudayaan. Perubahan dalam kebudayaan : ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat, dsb, bahkan perubahan dalam bentuk serta aturan organisasi sosial.
Contoh, dikemukakannya perubahan pada logat bahasa Aria setelah berpisah dari induknya, akan tetpi perubahan itu tidak mempengaruhi organisasi sosial masyarkat.
Perubahan tersebut lebih dikarenakan perubahan kebudayaan ketimbang perubahan sosial.
Tidak mudah untuk menentukan letak garis pemisah antara perubahan sosial dan perubahan kebudayaan. Karena tidak ada masyarakat yang tidak memiliki kebudayaan, dan sebaliknya tidak mungkin ada kebudayaan yang tidak terjelma dalam masyarakat.
Ada beberapa hal penting yang harus kita perhatikan mengenai masalah gerak kebudayaan, antara lain yaitu :

2.7 Evolusi Masyarakat  Dan Kebudayaan
Evolusi adalah perubahan-perubahan yang memerlukan waktu lama dan rentetan perubahan kecil yang saling mengikuti dengan lambat. Perubahan terjadi dengan sendirinya tanpa rencana dan kehendak tertentu. Perubahan terjadi karena upaya masyarakat dalam menyesuaikan diri dengan keperluan, keadaan dan kondisi baru yang timbul seiring pertumbuhan dalam masyarakat itu sendiri.
Macamnya evolusi :
  Unilinear theories of evolution.
Manusia dan masyarakat (termasuk kebudayaan) mengalami perkembangan sesuai dengan tahapan-tahapan tertentu, bermula dari bentuk yang sederhana hingga yang kompleks sampai pada tahap yang sempurna.
Variasi dari teori ini Cyclical Theorist yg berpendapat bahwa masarakat dan kebudayaan mempunyai tahap perkembangan yang merupakan lingkaran, dimana suatu tahap tertentu dapat dilalui berulang-ulang.
         Universal theorist of  evolution.
Perkembangan masyarakat tidaklah perlu melalui tahapan tertentu yang tetap. Kebudayaan manusia telah mengikuti garis evolusi tertentu, teori ini dikemukakan oeh Herbert Spencer yang mengatakan masyarakat merupakan hasil perkembangan dari kelompok homogen ke kelompok yang heterogen, bik sifat maupun susunannya.
         Multilined theories of evolution.
Penelitian terhadap perkembangan tertentu dalam evolusi masyarakat, misalnya mengadakan penelitian perihal pengaruh perubahan system pencaharian dari system berburu ke pertanian, terhadap system kekeluargaan dalam masyarakat yagn bersangkutan.
  Akulturasi
Akulturasi adalah suatu proses saling mempengaruhi antara kebudayaan yang saling berinteraksi. Kebudayaan yang satu dipengaruhi oleh kebudayaan yang lain. Contohnya dapat kita lihat pada cara bicara masyarakat Cirebon Jawa. Masyarakat Cirebon jawa berbahasa sunda akan tetapi bahasa mereka terpengaruh oleh unsure bahasa jawa dan sebaliknya. Akulturasi terjadi bila suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapakn pada unsur-unsur suatu kebudayaan asing yang berbeda sedemikian rupa, sehingga unxur kebudayaan asing tersebut lambat laun diterima dan diolah kedalam kebudayaan sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.
  Asimilasi
Asimilasi merupakan proses sosial dalam taraf lanjut. Proses ini ditandai dengan adanya usaha mengurangi perbedaan yang terdapat antar orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia dan juga meliputi usaha untuk mempertinggi kesatuan tindak, sikap dan proses-proses mental dengan memperhatikan kepentingan-kepentingan dan tujuan bersama.

2.8 Faktor-Faktor yang menyebabkan perubahan sosial dan kebudayaan
Untuk mempelajari perubahan masyarakat, perlu diketahui sebab-sebab yang melatar belakangi terjadinya perubahan tersebut.
Sebab-sebab yang bersunber dalam masyarakat :
1)      Bertambahnya atau berkurangnya penduduk
2)      Adanya penemuan-penemuan baru
3)      Pertentangan / konflik masyarakat
4)      Terjadinya pemberontakan atau revolusi

Sebab-sebab yang berasal dari luar :
1)      Bencana alam
2)      Peperangan
3)      Pengaruh kebudayaan lain

2.9 Faktor-faktor yang mempengaruhi jalannya perubahan
Didalam masyarakat dimana terjadi suatu proses perubahan, terdapat factor-faktor yang mendorong jalannya perubahan yang terjadi. Factor tersebut adalah :
1)      Ditusi, yaitu proses penyebaran unsure-unsur kebudayaan dari suatu individu kepada individu lain, dari suatu masyarakat kemasyarakat lain
2)      System pendidikan formal yang maju
3)      Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan untuk maju
4)      Toleransi
5)      System terbuka lapisan masyarakat
6)      Penduduk yang heterogen
7)      Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu
8)      Orientasi kemasa depan
9)      Nilai bahwa manusia harus berikhtiar untuk memperbaiki hidupnya.
    
2.10  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Nilai Budaya
Menurut Munandar Sulaiman (1992), faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan perkembangan nilai budaya adalah :
1.      Jarak komunikasi antara kelompok etnis.
Masih terdapat jarak komunikasi antara kelompok etnis, hal yang sering menimbulkan konflik budaya seseorang yang bergerak dari satu kelompiok etnis ke kelompok etnis yang lain. Contoh migdrasi ke kelompok etnis yang berbeda mungkin menimbulkan pergeseran sistem nilai budaya yang sudah ada di daerah kelompok etnis penduduk asli, misalnya menganggap rendah status etnis pendatang (negatif), tetapi mungkin juga etnis pendatang menjadi penggerak pembangunan di daerah kelompok etnis penduduk asli (positif).
2.      Pelaksanaan pembangunan,
Pelaksanaan pembangunan yang terus menerus akan dapat merubah sistem nilai ke arah yang positif dan negatif.
1)      Pergeseran sistem nilai yang mengarah ke perbaikan antara lain :
a)      Pola hidup tradisional, dan bertaraf lokal yang berbau mistis, berubah menjadi pola hidup modern bertaraf nasional-internasional yang berbasis ilmu pengetahuan dan teklnologi.
b)      Pola hidup sederhana yang hanya bergantung pada alam lingkungan, meningkat menjadi pola hidup modern yang mampu menguasai alam lingkungan dengan dukungan prasarana dan sarana serta teknologi.
c)      Pola hidup makmur yang hanya kecukupan sandang, pangan, dan perumahan meningkat menjadi pola hidup makmur dan juga sehat, teratur, bersih dan senang serta aman sesuai dengan standar menurut ilmu pengetahuan dan teknologi.
d)     Kemampuan kerja yang hanya berbasis kekuatan fisik dan pengalaman, meningkat menjadi kemampuan kerja berbasis keahlian, dan ketrampilan yang didukung teknologi.
2)      Pergeseran sitem nilai yang mengarah negatif antara lain :
a)      Penggusuran hak milik seseorang untuk kepentingan pembangunan tanpa prosedur hukum yang pasti dan tanpa ganti kerugian yang layak, bahkan tanpa ganti kerugian sama sekali.
b)      Mengurangi atau meniadakan arti kemanusiaan seseorang memandang manusia sebagai obyek sasaran yang selalu dikenai penertiban, serta hak asasinya tidak dihargai.
c)      Tindakan sewenang-wenang dan tidak ada kepastian hukum dalam hubungan antara penguasa / pejabat / majikan dengan rakyat bawahan /buruh.
3)      Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menimbulkan konflik dengan tata nilai budaya yang sudah ada, perubahan kondisi kehidupan manusia, sehingga manusia bingung sendiri terhadap kemajuan yang telah diciptakan. Hal ini merupakan akibat sifat ambivalen teknologi yang selain memiliki segi positif, juga memiliki segi negatif.Sebagai dampak negatif teknologi, manusia menjadi resah. Keresahan manusia muncul akibat adanya benturan nilai teknologi modern dengan nilai-nilai tradisional (konvensional). Ilmu pengetahuan dan teklnologi berpihjak pada suatu kerangka budaya. Kontak budaya yang ada dengan budaya asing menimbulkan perubahan orientasi budaya yang mengakibatkan perubahan sistem nilai budaya.

BAB III
PENTUP


3.1 Kesimpulan
Budaya adalah "Keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil kerja manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Nilai-nilai budaya merupakan nilai- nilai yang disepakati dan tertanam dalam suatu masyarakat, lingkup organisasi, lingkungan masyarakat, yang mengakar pada suatu kebiasaan, kepercayaan (believe), simbol-simbol, dengan karakteristik tertentu yang dapat dibedakan satu dan lainnya sebagai acuan prilaku dan tanggapan atas apa yang akan terjadi atau sedang terjadi. Dalam hal ini  kearifan budaya lokal yang menunjukkan identitas dan karakter budaya lokal mestinya terlihat secara jelas dalam konsep ketahanan budaya lokal yang mestinya nilai kaearifan budaya lokal tetap terjaga dan menjadi nilai yang tetap ada untuk memperkokoh ketahanan budaya lokal. Dinamika Kelompok  merupakan suatu kelompok yang terdiri dari dua atau lebih individu yang memiliki hubungan psikologis secara jelas antara anggota satu dengan yang lain dan berlangsung dalam situasi yang dialami.

3.2 Saran
Demikian hasil makalah kami, semoga bermanfaat bagi kita semua dan dapat menerapkannya dalam budaya dan lingkungan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Ardiwinata, Jajat. 2007. Sosiologi Antropologi Pendidikan.Bandung: UPI PRESS
Effendi,Ridwan. 2006. Pendiidkan Lingkungan Sosial Budaya dan Teknologi. Bandung: UPI PRESS.
Fathoni, Abdurrahmat. 2006. Antropologi Sosial Budaya. Jakarta: PT Rineka Cipta
Hermana, Ruswendi. 2006. Perspektif Sosial Budaya. Bandung: UPI PRESS
Koentjaraningrat. 2003. Pengantar Antropologi I. Jakarta: PT Rineka Cipta
Soekanto,Soerjono.1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.